
Ida, Dea dan Yayang siswa anak berkebutuhan khusus (tuna rungu) begitu lincah menari dan menghibur. Keterbatasan secara fisik bukan berarti menghilangkan kepercayaan diri.
Ketua Kwarcab Banyumas Drs Achmad Supartono, M Si sejak awal merencanakan dan memberi ruang anak untuk menyalurkan bakat termasuk anak berkebutuhan khusus.
“Buktinya, mereka pun bisa menampilkan kreativitas dan bakatnya. Mereka tampil memukau dan menghibur.
Keterbatasan tidak dijadikan alasan untuk malu tampil di depan publik,” kata Partono. Guru dan pelatih tari SLB B Yakut, Susetya Tunjung mengatakan salah satu ketrampilan anak-anak berkebutuhan khusus adalah seni tari. Di SLB-B itu sendiri dikhususkan bagi tuna rungu.
Menurutnya melatih dan mengajak mereka untuk tampil di depan publik memang cukup sulit, butuh pendekatan ekstra terhadap anak-anak. Mereka juga harus diperlakukan secara khusus.
“Setelah itu, kita bentuk perlahan, munculkan kepercayaan diri mereka, agar bisa tampil lepas, dan terbukti mereka tampil bagus,” katanya.
(Par/CJ-1102)