WONOSOBO – Dua orang Andalan Cabang dan satu orang DKC mengikuti
Pelatihan Protokol dan Kehumasan yang diselenggarakan oleh Kwartir Daerah Jawa
Tengah, pada 26 – 28 Oktober 2020. Pelatihan ini dilakukan secara daring (dalam
jaringan) melalui apklikasi Zoom Meeting.
Pelatihan dibuka oleh Kak Atiqoh Ganjar Pranowo. Dalam sambutannya, ia
mengatakan setiap kwarcab sudah difasilitasi website namun mesti diimbangi
dengan konten yang mendidik, informative dan menarik. Ia menganggap kegiatan
ini sangat penting untuk bekal dalam mengelola website di masing-masing
kwarcab.
Kak Heru Djatmiko, selaku panitia kegiatan, menyampaikan bahwa pelatihan
tersebut diselenggarakan untuk membekali peserta dengan berbagai keterampilan
terkait protokoler dan kehumasan. Ilmu protokeler sangat dibutuhkan dalam
kegiatan Pramuka, karena pada setiap kegiatan selalu bersinggungan langsung
dengan para pejabat dari tingkat yang rendah sampai dengan pusat.
“Pramuka harus mempunyai kemampuan keprotokoleran, karena setap kegiatan
selalu bersinggungan dengan pejabat di wilayah kegiatan tersebut
diselenggarakan.” ujarnya.
Apalagi terkait kehumasan, lanjutnya, image Pramuka sangat tergantung
dengan pemberitaan yang ada, positif atau negative akan terbangun dari
pemberitaan yang ada. Sehingga image positif harus dibangun oleh Pramuka
sendiri, minimal dengan sikap dan perilaku anggota Pramuka yang baik dan bisa
diteladani.
Dalam pelatihan ini, peserta diberikan materi berupa Fundamental Gerakan
Pramuka, Panduan Protokol, Penulisan Berita serta Pembuatan konten media
sosial. Tak hanya materi, peserta juga diberikan penugasan-penugasan selama
tiga hari pelatihan tersebut.
Dari Kwarcab Wonosobo yang ditugasi mengikuti kegiatan tersebut adalah
Kak Afri Setyono dari bidang organisasi dan hukum, Kak hasannudin dari bidang
humas serta Kak Maarif dari dewan kerja cabang.
Kak Andicha, andalan daerah bidang Humas memberikan materi tentang
pembuatan konten media sosial berupa podcast, gambar dengan caption yang
menarik serta penulisan berita. Iia menyampikan, pembuatan konten media sosial
jangan terlalu kaku, bisa dibuat dengan bahasa yang sesuai dengan kaum
milenial.
Ia juga menyampaikan bahwa image negative yang diterima Pramuka, dikarenakan
anggota Pramuka tidak mewartakan kegiatan Pramuka dengan baik. Sehingga orang
yang tidak mengetahui Pramuka cenderung memberitakan negative dan memojokkan
Pramuka.
“Image yang buruk untuk Pramuka bukan karena orang yang tidak tahu
Pramuka memberitakan tentang keburukan Pramuka, tetapi orang yang tahu Pramuka
tidak mau memberitakan tentang positifnya kegiatan Pramuka,” jelasnya.
Kak Andicha berharap dengan pelatihan ini, Kwarcab di Jawa Tengah lebih
giat memberitakan kegiatan Pramuka, sehingga image positif kegiatan pramuka
bisa dipelihara.

