Close Menu
Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Jawa Tengah
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Jawa TengahKwartir Daerah Gerakan Pramuka Jawa Tengah
    • Home
    • Profil
      • Lambang
      • Daftar Ketua Kwartir Daerah Jawa Tengah
      • Pra Kata Ketua Kwarda Jawa Tengah
      • Profil Pimpinan
      • Profil Sekretariat
    • Organisasi
      • Pengurus
      • Pusdiktlatda
      • Pusdatin
      • Puslitbangda
      • Dewan Kerja Daerah
    • Berita
      • Aktivitas Kwarda
      • Lintas Pramuka Jateng
      • Dewan Kerja
    • Puskepram
    • Kwartir Cabang
    • Portal Data
      • Peta Pendataan Anggota Pramuka Jateng
      • Ayo Pramuka Kwarnas
      • Pusat Data dan Informasi
    Kirim Berita RADIO
    Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Jawa Tengah
    Home»Lintas Pramuka Indonesia»Saatnya Bertandang ke Rumah Baden Powell – pramuka.id

    Saatnya Bertandang ke Rumah Baden Powell – pramuka.id

    Lintas Pramuka Indonesia By 22/02/202146 Views
    Share WhatsApp Facebook Twitter Telegram
    Share
    WhatsApp Facebook Twitter Telegram

    Dalam salah satu bukunya, Baden Powell (BP) menyebutkan bahwa to get a hold on boys you must be their friend. Seorang Pembina Pramuka harus bisa menjadi teman bagi peserta didiknya. Ia bisa ceria tertawa bersama, mendengar keluh kesahnya, berjalan bersama atau duduk bercengkrama.

    Ucapan itu mudah diucapkan dan dibatinkan tetapi sukar diterapkan bagi orang dewasa. Ada penghambat besar yang harus diterobos dengan tekad kuat. Hambatan itu adalah jarak usia, selisih paradigma, beda pengalaman, dan tingkat yang tidak sama dengan adik-adik. Hanya yang benar-benar melepas baju perbedaan itulah yang dapat menjalani sesuai imbauan BP.

    Anggap saja orang dewasa mampu melepas baju orang dewasanya sehingga setara dengan peserta didiknya. Namun, peserta didik juga mempunyai anggapan yang terhalang karena keadaan. Peserta didik akan lebih sukar menganggap orang dewasa akrab dengan dirinya. Mereka lebih sukar menganggapnya karena tampak fisik yang berbeda dengan fisiknya, tampak gerak yang melamban dari dirinya, tampak kesantunan yang berbeda dari dirinya. Penolakan terang-terangan mungkin tidak terjadi tetapi penolakan batin mungkin terjadi.

    Itulah situasi yang disadari oleh BP sejak awal. Oleh karenanya, BP tidak mau menjelaskan isi buku Scouting for Boys (SfB). BP tidak ingin hubungan dengan peserta didik terjalin dalam bungkus pelajaran atau pelatihan. BP ingin hubungan orang dewasa dengan peserta didik terjalin secara alamiah dalam situasi learning by doing. Bahkan, BP sampai menyebutkan Scouting is not science but its jolygame. Kepramukaan bukanlah ilmu yang harus dipelajari di kelas-kelas dan diceramahkan oleh orang dewasa tetapi permainan yang menyenangkan.

    BP hanya ingin mempraktikkan buku SfB di sebuah pulau yang alamiah. BP melepas baju pensiunan jenderalnya. Beliau melupakan keningratannya. BP membenamkan ilmu kemiliteran. Beliau sejajar dengan anak-anak dan bermain bersama dengan nuansa menyenangkan dan learning by doing. Selang beberapa hari, dari uji buku itu, anak-anak mengabarkan pengalaman yang membahagiakan dirinya. Tersebarlah, kehebatan momen di Brownsea itu.

    Saat ini, aktivitas nature dan learning by doing ala BP sudah jauh panggang dari api. Di tiap kwartir terbentang kursus, diklat, ceramah, atau gladian yang bersifat saya bisa peserta belum bisa. Situasi itu bahkan merambah pada kegiatan perkemahan adik-adik yang isinya berkeliling duduk lalu mendengarkan ceramah. Lihatlah, jambore atau raimuna berisi kegiatan pengguruan dari instansi atau panitia giat yang dianggap lebih paham. Oleh karenanya, potensi mengeluarkan gerak dan ide dari adik-adik tergantikan oleh keharusan menerima. Situasi itu berat sebelah atau dalam kondisi ketidakbersamaan.

    Jadi, perlu jurus jitu agar terjadi kebersamaan yang normal antara peserta didik dan orang dewasa. Alam terbuka dipakai sebagai wajan kegiatan biar tidak terjadi deviasi.

    Sebentang ini, telah terlewati 164 tahun, situasi kepramukaan mengalami deviasi atau pelebaran bidik sekian derajat. Inti kepramukaan beralih ke kelas dan halaman gedung. Hutan, danau, sungai, parit, dan semak dan seterusnya dibiarkan menua tanpa turut mengembangkan jiwa para pramuka.

    Dampaknya, inti kebahagiaan memudar karena tidak terlewati secara alamiah. Rintangan alam yang menguatkan persaudaraan peserta didik kurang terjadi. Alam yang mampu menggesek pengalaman adik-adik tidak termanfaatkan.

    Memang BP ada untuk membangun abad 20 sehingga melahirkan generasi baby boomer. Namun, bisakah inti kepramukaan mendorong generasi abad 21 ini? Tentu bisa hal itu dijalankan. Resepnya ada keberanian untuk kembali ke pangkal mula kepramukaan dikreasi oleh BP. Selamat Hari BP 2021.

    ***

    Penulis:

    Prof. Dr. Suyatno, M.Pd. (Waka Binawasa Kwarnas 2028-2023)

      Berita terbaru
      Lintas Pramuka Jateng

      Enam Pembina Pramuka Kwarran Purwojati Terima Lencana Pancawarsa pada Upacara HUT ke-81 Kemerdekaan RI

      Lintas Pramuka Jateng PUSDATIN JATENG17/08/20260

      PURWOJATI — Enam anggota dewasa Gerakan Pramuka Kwartir Ranting (Kwarran) Purwojati menerima Penghargaan Orang Dewasa…

      KaKwarda Jateng Masak Mendoan, Kenalkan Kuliner Banyumas di Festival Kuliner Nusantara Jamnas XII 2026

      16/08/2026

      Tanamkan Jiwa Kebersamaan Sejak Dini, SDN 2 Purwojati Gelar Kegiatan PERSERI Pramuka Siaga

      16/08/2026

      Karang Pamitran Kwarran Purwojati Jadi Ruang Silaturahmi dan Penguatan Peran Kamabigus

      16/08/2026
      Media Sosial
      • Facebook
      • YouTube
      • TikTok
      • WhatsApp
      • Twitter
      • Instagram

      Sekretariat :

      Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Jawa Tengah
      Gedung Pramuka Lantai 5
      Jl. Pahlawan no. 8 Semarang
      Tel: +(024) 8311163
      Fax: +(024) 8311902.

      Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
      © 2026 Kwarda Jawa Tengah by Cyber Scouts PUSDATIN

      Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

      Go to mobile version