Site icon Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Jawa Tengah

Asal Usul Baturraden

Asal Usul Baturraden

Baturradèn merupakan wilayah yang terletak di sebelah utara kota Purwokerto tepatnya di lereng sebelah selatan Gunung Slamet dengan ketinggian 750 – 900 m dpl yang menjadikan kawasan ini memiliki hawa yang sejuk dan cenderung sangat dingin terutama di malam hari. Baturraden juga merupakan daerah wisata yang banyak dikunjungi oleh wisatawan lokal, terutama pada hari minggu dan hari libur nasional.

Beragam objek wisata seru bisa dinikmati di Baturraden mulai dari kolam renang, sepeda air, curug, pemandian air hangat dan berpose di spot foto Instagramable, dan semua ada di Lokawisata Baturraden.

Lokawisata Baturraden buka setiap hari, pukul 07.00 hingga 15.00 WIB. Untuk bisa masuk ke Lokawisata Baturraden, pengunjung harus membeli tiket masuk dengan harga  untuk hari biasa Rp 20.000, dan hari libur atau akhir pekan Rp 25.000

Dikutip dari Kompas.com sebagaimana layaknya suatu tempat di Jawa, Baturraden juga dikenal legendanya yang konon menjadi cikal bakal berdirinya lokasi ini. Salah satu versi legenda itu berkaitan dengan Kadipaten Kutaliman yang konon berlokasi di 10 kilometer sebelah barat kaki Gunung Slamet.

Kadipaten ini dipimpin oleh seorang Adipati. Dia memiliki seorang istri, seorang putri, dan seorang abdi dalem yang bernama Batur Gamel. Batur Gamel adalah seorang pemuda tampan yang tekun bekerja, dia bertugas membantu urusan rumah tangga Adipati, dan mengurus kuda.

Suatu hari, saat Batur Gamel sedang bekerja, dia mendengar suara jeritan dari balik hutan. Dia pun segera menuju ke sumber suara untuk menolong sosok yang berteriak itu. Setibanya di sumber suara, Batur Gamel melihat ada seorang wanita yang hendak diserang oleh seekor ular.

Batur Gamel lantas membunuh ular itu dengan menggunakan pisau yang digenggamnya. Setelah itu, Batur Gamel baru sadar bahwa wanita itu adalah putri Adipati. Sejak saat itu, hubungan Batur Gamel dan putri Adipati semakin dekat. Lambat laun keduanya keduanya terlibat cinta terlarang hingga membuat sang putri hamil.

Sementara itu, Adipati merasa sudah saatnya sang putri untuk menikah. Adipati pun memanggil sang putri untuk menyampaikan niat untuk menikahkannya. Namun putri hanya terdiam, dan takut untuk menyampaikan kondisinya yang sedang mengandung anak Batur Gamel.

Disisi lain, Batur Gamel pun berpikir untuk bertanggung jawab atas perbuatannya. Dia pun berniat untuk meminang putri. Batur Gamel lantas menghadap Adipati, dan mengutaraan niatnya. Selain itu, Batur Gamel juga menyampaikan perbuatannya. Mendengar itu, Adipati murka. Batur Gamel dan sang putri pun lantas diusir.

Singkat cerita, Batur Gamel dan putri Adipati pergi keluar kadipaten. Keduanya pun menetap di kaki gunung Slamet dan membangun rumah sederhana di sana. Tempat kediaman keduanya itu kemudian dikenal dengan nama Baturraden. Kata ini terdiri dari dua kata, yaitu Batur (Batur Gamel) dan Raden (sebutan kebangsawanan untuk sang putri).

Exit mobile version