“Tension Between Heritage and Innovation” – istilah WOSM (organisasi pramuka dunia) dalam menggambarkan tantangan pendidikan keterampilan di lingkungan pendidikan kepramukaan.
Turunnya minat generasi muda terhadap Gerakan Pramuka bukan karena malas atau kehilangan semangat, tetapi karena Pramuka belum berhasil memaknai ulang keterampilan tradisionalnya (traditional scouting skills) dalam konteks zaman baru, zaman digital, zaman Gen Z.
Baden Powell membangun Pramuka di era awal revolusi industri, ketika kemampuan bertahan hidup di alam bebas menjadi simbol kemandirian, kebahagian dan menumbuhkan karakter positip. Kini, ketika era digital, survival justru berarti mampu berpikir kritis, berkolaborasi, berinovasi, dan menjaga nilai di tengah dunia yang cepat berubah.
WOSM menyebut hal di atas sebagai _tension between heritage and innovation_ ketegangan antara menjaga warisan tradisional dan kebutuhan inovasi untuk menjawab tantangan masa depan.
Keterampilan tradisional seperti pionering, semaphore, atau peta-kompas *tetap penting* bukan *karena bentuknya* tetapi karena *nilai* yang dikandungnya, seperti *kerja sama, disiplin, kreativitas, dan kepedulian.*
Nilai-nilai dimaksud tidak boleh hilang, tetapi harus diekspresikan ulang melalui bentuk pendidikan keterampilan baru seperti digital _mapping, social innovation, storytelling for change, enterprenurship, content creator_, dan sebagainya. Bentuk pendidikan keterampilan baru diatas pondasi nilai dan karakter tradisional.
Jadi, tugas Gerakan Pramuka dalam mengembangkan model pendidikan keterampilan sebagai bagian dari pendidikan kecakapan hidup, bukan memilih antara “tradisi” atau “inovasi”, tetapi mentransformasikan tradisi menjadi inspirasi dan pendorong inovasi.
Ketika Gerakan Pramuka mampu melakukan agenda ini, maka akan dapat kembali menjadi gerakan pendidikan nilai dan kompetensi yang relevan, inspiratif, solutif dan dipercaya gen Z. Untuk itu tidak ada jalan lain Gerakan Pramuka harus merevitalisasi SKU sebagai kurikulum pelatihannya.
Revitalisasi SKU Pramuka Indonesia perlu merujuk pada dua model kurikulum kepanduan dunia yang paling maju saat ini: “The Canadian Path” (Scouts Canada) dan “The Language of the Program” (Scouts Australia). Kedua framework ini menempatkan kepramukaan bukan sekadar latihan keterampilan, melainkan pendidikan berbasis nilai dan pengalaman yang membentuk karakter, kepemimpinan, dan tanggung jawab sosial generasi muda.
Model Canadian Path menekankan pembelajaran reflektif melalui siklus _Plan–Do–Review_ dan ranah pengembangan SPICES (Social, Physical, Intellectual, Character, Emotional, Spiritual), sementara _Language of the Program_ menghadirkan sistem kurikulum yang integratif, fleksibel, dan berorientasi nilai. Keduanya dapat menjadi benchmark strategis dalam membangun _Values-Based Integrated Curriculum_ untuk SKU Pramuka Indonesia agar lebih relevan dengan karakter dan tantangan Generasi Z.
Bagaimana formula Gerakan Pramuka, mengatasi ‘ketegangan” di atas? Dimana letak kekuatan dan kelemahan SKU Penegak saat ini, yang sudah berlaku sejak tahun 2011 lalu? Bagaimana roadmap revitalisasi SKU Penegak sebagai kurikulum pendidikan non formal berbasis nilai dan kompetensi yang relevan dengan Gen Z? Bagaimana menjadikan kurikulum Pramuka Australia dan Kanada menjadi bencmark?
Nantikan jawaban selengkapnya dalam laporan penelitian kebijakan (_policy research_): *”Arah Revitalisasi SKU Penegak, sebagai kurikulum pendidikan non formal berbasis Nilai dan Karakter yang Relevan dengan Aspirasi Gen Z”.* Hasil riset ini diharapkan bisa mendorong Gerakan Pramuka agar menghasilkan SKU sebagai kurikulum pendidikan kepramukaan sekuat milik Kepanduan Australia atau Kanada. Salam
Semarang,9 Oktober 2025
Puslitbang Kwartir Daerah Jawa Tengah
🙂🙏
_*Catatan Kaki*_
Riset ini merupakan PR lama tinggalan Alm. Kak Paulus dan Alm. Kak Dadi (Puslitbang Kwarnas, saat itu) yang baru bisa diselesaikan dalam waktu dekat ini. PR yang baru bisa diurai setelah memperoleh “insight” para ahli kurikulum dari _”Pusat Kurikulum dan Pembelajaran – Badan Standar, Kurikulum dan Asesmen Pendidikan”_ Kemendikdasmen dan juga dibantu Ai karena begitu banyaknya dokumen yang harus dibedah. Semoga kedua almarhum dialam sana “tersenyum” melihat gagasan ditindaklanjuti, meski dengan susah payah. 🙂🙏
Pengurus Puslitbang Kwarda Jateng:
Prof.Dr. Martitah, M.Hum, Trijuni Atmojo,ST M.Si, Agus Sutrisno, S.Pd, M.Pd, Drs. Agus Widiyanto, Dr.Widodo, M.Pd, Dr.Sumartini, MA, Dra.Sutarti, M.Si, Dr. Eka Septiana, M.Pd. Rosidin Sudastro, Isnaeni Musyafak,S.Pdi, Muhammad Victor Ali. Dwi Risma Rakhmawati, Sukma Wahyu Wardono, Prof.Dr.Sri Sumartiningsih, SSi, M.Kes, Drs.Agus Widodo, Kholfan Zubair, TS S.Pdi, M.Pd, Yitno, SS, M.Iwan Aziz, Nutul Kismawati
