Close Menu
Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Jawa Tengah
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Jawa TengahKwartir Daerah Gerakan Pramuka Jawa Tengah
    • Home
    • Profil
      • Lambang
      • Daftar Ketua Kwartir Daerah Jawa Tengah
      • Pra Kata Ketua Kwarda Jawa Tengah
      • Profil Pimpinan
      • Profil Sekretariat
    • Organisasi
      • Pengurus
      • Pusdiktlatda
      • Pusdatin
      • Puslitbangda
      • Dewan Kerja Daerah
    • Berita
      • Aktivitas Kwarda
      • Lintas Pramuka Jateng
      • Dewan Kerja
    • Puskepram
    • Kwartir Cabang
    • Portal Data
      • Peta Pendataan Anggota Pramuka Jateng
      • Ayo Pramuka Kwarnas
      • Pusat Data dan Informasi
    Kirim Berita RADIO
    Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Jawa Tengah
    Home»Lintas Pramuka Indonesia»Sultan HB IX Angkut Karung Beras, Ini Kesaksian Sumadi – pramuka.id

    Sultan HB IX Angkut Karung Beras, Ini Kesaksian Sumadi – pramuka.id

    Lintas Pramuka Indonesia By 13/04/202118 Views
    Share WhatsApp Facebook Twitter Telegram
    Share
    WhatsApp Facebook Twitter Telegram

    Bapak Sumadi setelah pensiun dari kepolisian memilih profesi sebagai petani. Dia tinggal di pemukiman dekat Proyek Transmigrasi Angkatan Udara di Abung Semuli, Lampung Utara. Bapak yang terakhir berpangkat Peltu ini sudah tidak bertani karena kadang kaki kram. Mata dan daya ingatnya masih bagus.

    Masa Pandemi ini dia berada di rumah saja. Kadang berganti ke rumah anaknya yang satu ke anak yang lain dengan mengendarai mobil sendiri di usia 91 tahun.
    Ada satu cerita yang masih lancar diceritakannya. Saat dari pramuka.id datang dia pun menuturkan kisahnya tentang Bapak Pramuka Indonesia: Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Cerita ini sudah tersebar ke mana-mana dan yang bercerita orang lain karena kejadiannya dilihat khalayak umum. Ini cerita tentang bakul beras.

    Pada portal Merdeka.com tertanggal
    12 April 2012 kisah bakul beras diceritakan oleh SK Trimurti, istri dari Sayuti Melik, pengetik naskah proklamasi. Dalam buku ‘Takhta Untuk Rakyat’ menceritakan bagaimana dirinya mengalami langsung sikap ringan tangan Sultan. Dia penasaran lihat kerumunan dan di sana ada bakul beras dan polisi.

    Nah, salah satu polisi ini adalah Sumadi. Ini cerita dari pak Polisinya:

    Suatu hari Minggu siang pada tahun 1954. Kak Sultan mengendarai mobil jeep favoritnya. Dia kenakan kaos berlengan pendek warna putih dan bercelana pendek warnanya putih juga. Kak Sultan dari arah Kaliurang dan ketika melewati Pasar Pakem, mobilnya distop oleh seorang wanita. Wanita itu menyuruh Kak Sultan mengangkat beras, kubis, dan cabai. Tanpa banyak bicara, Kak Sultan mengangkutnya. Berasnya Kak Sultan letakan di bagian depan, sebelah jok yang dia duduki saat menyupiri. Sedangkan sayuran di bagian belakang.

    Mobil itu berhenti di pinggir Pasar Kranggan. Kemudian Kak Sultan menurunkan karungan beras, kubis, dan cabai dari mobilnya. “Saya lagi dinas di Pingit dekat pasar Kranggan. Saya melihat Sri Sultan turunkan beras. Eit…saya takut. Saya dan kawan langsung mendekati dan memberi hormat. Tapi barang sudah diturunin semua,” cerita Sumadi.

    Melihat Sri Sultan pulang, bakul beras itu bicara keras, “Eh, ngko disik. Lho kepiye iki. Durung diupahi wis lungo. Opo ora doyan duit. Ini lho…, ini duite.”

    “Mbakyu kenapa lho. Kok iso ngono. Mbak gak tahu siapa itu?”

    “Ini supir tadi.. ora doyan duit.”

    “Itu Ratumu: Sri Sultan Hamengku Buwono.”

    Bakul beras itu kaget lalu pingsan di trotoar. Sumadi pun bingung karena pingsannya lama, di troroar. Setiap siuman, pingsan lagi. Lalu dia dan kawannya membawa ibu itu ke RS Bethesda. Tapi ya itu…, tiap ingat dia pingsan.

    Pada pukul 4 sore Kak Sultan menjenguk bakul beras di RS Bethesda. Melihat Kak Sultan, bakul beras itu pun jalannya mbrangkang dan menyembah meminta maaf berkali-kali.

    “Kowe ora salah. Wis rapopo ndang mari. Wis rapopo. Kowe ora salah. Kowe ora ngerti. Nek kowe ngerti, yo kowe salah,” kata Kak Sultan.

    Setelah Kak Sultan pulang, bakul beras pun sembuh.

    Mendengar cerita tersebut dan cerita lain dari kakek Sumadi, tergambarkan betapa Kak Sultan itu dihormati dan dicintai rakyatnya. Meski beliau seorang raja, Kak Sultan merakyat. Dia tidak sombong. Dalam menolong kak Sultan tidak pilih-pilih, sabar dan berhati mulia.

    Teks & Foto: Fitri H.
    (Seperti yang diceritakan Kakek R. Sumadi kepada penulis.)

      Berita terbaru
      Lintas Pramuka Jateng

      Enam Pembina Pramuka Kwarran Purwojati Terima Lencana Pancawarsa pada Upacara HUT ke-81 Kemerdekaan RI

      Lintas Pramuka Jateng PUSDATIN JATENG17/08/20260

      PURWOJATI — Enam anggota dewasa Gerakan Pramuka Kwartir Ranting (Kwarran) Purwojati menerima Penghargaan Orang Dewasa…

      KaKwarda Jateng Masak Mendoan, Kenalkan Kuliner Banyumas di Festival Kuliner Nusantara Jamnas XII 2026

      16/08/2026

      Tanamkan Jiwa Kebersamaan Sejak Dini, SDN 2 Purwojati Gelar Kegiatan PERSERI Pramuka Siaga

      16/08/2026

      Karang Pamitran Kwarran Purwojati Jadi Ruang Silaturahmi dan Penguatan Peran Kamabigus

      16/08/2026
      Media Sosial
      • Facebook
      • YouTube
      • TikTok
      • WhatsApp
      • Twitter
      • Instagram

      Sekretariat :

      Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Jawa Tengah
      Gedung Pramuka Lantai 5
      Jl. Pahlawan no. 8 Semarang
      Tel: +(024) 8311163
      Fax: +(024) 8311902.

      Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
      © 2026 Kwarda Jawa Tengah by Cyber Scouts PUSDATIN

      Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

      Go to mobile version