Krisna Maulana Firmansyah, remaja berusia 16 tahun yang lahir pada tanggal 11
September 2006 di Semarang. Sejak lahir, Krisna mengalami tuna rungu, namun hal
itu tidak menyurutkan semangatnya untuk menjalani kehidupan dengan penuh
dedikasi.
Krisna adalah anak dari pasangan Ayah Suryana dan Ibu Kristiyaningrum. Mereka
tinggal di Jl. Zebraraya No. 11 RT 05 RW 04, Pedurungan Kidul, Semarang. Krisna
mengenyam pendidikan di SLB Negeri Semarang, mulai dari TK hingga saat ini, di
mana ia naik ke kelas 11. Setiap harinya, Krisna menggunakan sepeda motor untuk
pergi ke sekolah yang memakan waktu sekitar 30 menit.
Meskipun memiliki keterbatasan pendengaran, Krisna aktif dalam kegiatan
perkemahan Pramuka Berkebutuhan Khusus (PPBK) sebagai peserta dari Kontingen
Kwarcab Kabupaten Semarang. Ia mengungkapkan rasa sukacitanya dalam
mengikuti perkemahan tersebut, mendapatkan pengalaman berharga dan menjalin
persahabatan baru. Krisna tetap semangat mengikuti latihan untuk PPBK 2023,
bahkan saat libur sekolah. Ia tidak pernah mengeluh tentang keterbatasannya,
melainkan terus semangat dalam berkegiatan.
Dibalik keterbatasan yang dimiliki, Krisna pernah berpartisipasi dalam lomba
komputer desain grafis. Ia mengikuti kelas keterampilan komputer sejak kelas 10
bersama guru keterampilannya. Krisna memiliki minat dan ketertarikan yang tinggi
dalam bidang komputer, dan mampu fokus dalam bekerja di komputer. Krisna
Maulana Firmansyah adalah contoh inspiratif bagi banyak orang. Meskipun
mengalami tuna rungu sejak lahir, ia tetap bersemangat dalam mengejar
pendidikannya dan berpartisipasi aktif dalam berbagai kegiatan, baik di sekolah
maupun di luar sekolah. Semangat yang tinggi menjadikan Krisna sebagai teladan
bagi orang-orang yang menghadapi tantangan dalam hidup mereka.
Krisna Maulana Firmansyah
Veronika Claudia Oktavianti lahir pada tanggal 31 Oktober 2004 di Semarang, Jawa
Tengah. Sejak kelahirannya, dia telah mengalami tuna netra, yaitu kebutaan sejak
lahir. Feronika, atau yang akrab dipanggil Fero, adalah anak dari pasangan Suyanto
dan Okta. Mereka tinggal di Jl. Merpati Timur No. 17, RT 5 RW 3, Semarang. Sejak
usia 8 tahun hingga SMA, Vero bersekolah di SLB Negeri Semarang dengan jurusan
Vokasional Musik. Sebelumnya, dia belajar di YPAC (Sekolah Yayasan Penyandang
Anak Cacat). Di tengah keterbatasannya, Fero memiliki bakat dalam bersuara merdu
dan memiliki kemampuan nyinden sejak usia 14 tahun. Dengan mengandalkan indera
pendengarannya, Fero belajar menyinden melalui lagu-lagu campursari.
Orang tua Vero memberikan dukungan penuh ketika dia mengikuti PPBK
(Perkemahan Pramuka Berkebutuhan Khusus) mewakili Kontingen Kwarcab
Kota Semarang. Mereka juga membantu mengembangkan bakat Vero. Vero
merasa senang ketika dia bisa berpartisipasi dalam perkemahan pramuka khusus
untuk anak berkebutuhan khusus. Di sana, dia bisa bertemu dan bermain dengan
teman-teman lainnya. Saat menjalani latihan, Vero meerasa kesulitan berkomunikasi
dengan teman di kontingennya karena kebanyakan nggota kontingen adalah tuna
rungu, sementara Vero sebagai tuna netra.
Meskipun demikian, Vero tidak pernah mengeluh dan selalu berusaha keras selama
latihan. Guru pembimbing turut membantu mereka dalam melatih dan mengatasi
kesulitan tersebut. Saat latihan, Vero sering kesulitan dengan lirik yang sering salah.
Namun, dengan kerjasama antara orang tua Vero, guru pembimbing, dan
pendampingnya di SLB Negeri Semarang, mereka terus memoles kemampuan Vero
untuk bisa menampilkan yang terbaik ketika perlombaan.
Meskipun hidup dengan keterbatasan, Vero terus berjuang dan mengembangkan
bakatnya dalam bidang musik. Dia menginspirasi banyak orang dengan semangat dan
ketekunan yang tak kenal lelah.
Veronika Claudia Oktavianti